Ritual Pengobatan dan Etika dalam Lontar Cakragni

Lontar Cakragni adalah lontar yang menguraikan masalah penyakit dan pengobatan. Di dalam Lontar Cakragni di uraikan baik mengenai penyakit, cara penyembuhan, sarana yang dipergunakan maupun hubungan penyakit dengan pengobatan, dalam Lontar Cakragni juga memuat berbagai hal tentang pendidikan baik dari aspek pendidikan tattwa, etika dan aspek ritual.

Teknik pengobatan dalam Lontar Cakragni menggunakan kekuatan-kekuatan api yang terdapat dalam organ tubuh manusia. Lontar ini menguraikan tentang tata cara mengobati penyakit mulai dari jenis penyakit, sarana obat serta doa-doanya (mantra-mantranya). Lontar Cakragni menyinggung pula nama-nama penyakit antara lain : penyakit tiwang, badan panas, tuju, jampi, sakit perut, kena upas warangan, bebahi dan sebagainya.

Lontar Cakragni menguraikan tentang nama-nama api serta kegunaan dari api tersebut dalam tubuh manusia, menyebutkan tentang nama Dewata Nawa Sanga yang mengirimkan berbagai jenis penyakit, juga menguraikan tentang tata cara dalam mempergunakan jimat, tetapi dalam penelitian ini hanya membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan saja terutama pendidikan tattwa, etika, dan ritual yang dianggap sebagai kerangka dasar dalam agama Hindu.


Tattwa dalam Lontar Cakragni

Lontar Cakragni menjelaskan stana atau tempat Agni di Bhuana Alit atau mikrokosmos, mikrokosmos diartikan sebagai badan manusia, penjelasannya adalah sebagai berikut :

Ih yan aku anglekasang Cakragni Wisesa, anggeseng satru, anggeseng gering, tka geseng lingsem, lebur. Ong Gni Pritiwi ring tlapakan batisku, Gni Kumang-mang ring cocan batisku, Gni Bongol ring betekan batisku,, Gni Baga ring entudku, Gni Wurung ring pahanku, Gni Wutik ring purusku, Gni Buged ring pungsesdku, Gni Kembar ring susunku, Gni Wisesa ring tlapakan limanku, Gni Murub ring cangkemku, Gni Mandi ring ilatku, Gni Bayu ring irungku, Gni Kwera ring karnanku, Gni Cakra buwana ring suryanku, Gni Agung ring pangadeganku, endih aku murub angebekin jagat, trus menek trus tuwun.

Artinya

Ih, bila aku mengeluarkan ajian Cakragni Wisesa akan dapat membakar musuh, membakar wabah, semuanya hangus terbakar.
Ong Gni Pritiwi pada bagian telapak kakiku, Gni Kumang-mang pada mata kakiku, Gni Bongol pada betisku, Gni Baga pada lututku, Gni Wurung pada pahaku, Gni Wutik pada kelaminku, Gni Buged pada pusarku, Gni Kembar pada payudaraku, Gni Wisesa pada telapak tanganku, Gni Murub pada mulutku, Gni Mandi pada lidahku, Gni Bayu pada hidungku, Gni Kwera pada telingaku, Gni Cakra Buwana pada mataku, Gni Agung pada seluruh tubuhku, nyalaku berkobar-kobar memenuhi dunia, terus naik, terus turun.
(Cakragni, lp:1b)


Menyimak uraian di atas, dijelaskan bahwa Tuhan atau bagian-bagiannya, yaitu para dewa dalam hal ini sebagai manifestasinya di stanakan dalam badan, bahkan ketentuannya hampir sama dengan stana para dewa di alam makrokosmos (alam semesta). Jadi dapat di tarik suatu benang merah bahwa Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit sama-sama diciptakan oleh Tuhan (Sanghyang Widhi Wasa), dengan demikian jelaslah bahwa para dewa bukan saja berstana di Bhuwana Agung melainkan juga di Bhuwana Alit.

Karena itu sebagai umat beragama hendaknya mengerti akan fungsi dan peranan dari Dewata Nawa Sanga yang bersemayam dalam badan manusia, seperti apa yang telah diuraiakan dalam Lontar Cakragni bahwa Dewa Agni mempunyai peranan dan fungsi sangat penting untuk menghancurkan musuh yang datang dari luar yang bermaksud jahat dan ingin mencelakakan, dan dapat dipergunakan untuk menolong orang yang sedang sakit.

Adapun mengenai dewa-dewa yang termuat dalam Lontar Cakragni adalah sebagai berikut :

Sanghyang Gni Anglayang, Sanghayang Durga, Sanghyang Siwa, Bhatara Kala dan Bhatara Guru sedangkan Dewa Siwa juga disembah sebagai guru di dunia, ini merupakan simbol-simbol yang dipergunakan dalam pemujaan terhadap manifestasi Tuhan khususnya tentang hal yang berkaitan dengan pencarian realitas dan manifestasi dari realitas itu sendiri.

Dengan menstanakan Dewa Agni yang disamakan dengan Brahma, kemudian dihubungkan dengan panca aksara yaitu

  • Sang yang memiliki arti api putih, berada di jantung, Bang memiliki arti api merah berada di hati,
  • Tang memiliki arti api kuning, berada di ginjal,
  • Ang memiliki arti api hitam, berada di hidung,
  • Ing memiliki warna api panca warna, berada pada rambut

Jadi dapat di artikan bahwa dalam tubuh manusia terdapat kekuatan Tuhan yang luar biasa besar dan jika pergunakan dengan baik maka, akan mampu mencapai beliau dalam penyatuan.
Lontar Cakragni menjelaskan tentang dewa-dewa yang dipuja dalam melakukan suatu pengobatan yang dilakukan oleh seseorang (balian) agar tetap dalam lindungannya, adapun dewa-dewa yang dipuja dalam melakukan pengobatan ialah :

Panyaak, sa., widu bayu, ma:
Ong Durga punah, getih punah, banyeh teke saak, 3.
Ta, saluiring mati, sa, yeh klungah tahapakena ma:
Ong Sanghyang Siwa Sabrata, ana urip, pada urip kabeh, jumeneng ana sakti, 3.
Ta., mala, sa., isin jong, pinipis, yeh arak, tahapakna muah puhakna ring irung nia, ma: Ong Sanghyang Gni Anglayang aku amugpug, amunah, anggeseng tuju tluh tranjana, sakwehing tuju, satus dualapan, tri mala, panca mala,dasa malaning hyang, mala sudamala, aku Sanghyang Gni Anglayang, apan aku paranta anglukat tri mala, panca mala, dasamala ning hyang, mala sudamala, aku Sanghyang Gni Anglayang, amupug, amunah angeseng malane si anu,
Ong aku paranta anglukatmalane sianu, mulih kang jati ening jati, lah poma, 3. sa, lurungan, apunakna,caru alit sagnepa.
Langu ring bau, yen lara dibau ring tengen dewa anglaranin, yen lara ring bahu kiwa, pepasangan alaranin,
Sa., lenge pitung lawang ma.,:
Ong Bhatara Mala ngawe meru tumpang pitu, Batara Guru nyaluk penyak agung, tuju tiwang mapupul, tuju getih teke saak, 3,
Ong idep aku Batara Guru amugpug, amunah tuju, sakwehning tiwang, tuju ajung, duang jong, tri jong, catur jong, panca jong, sad jong, tuju jong, dlapan jong, smilan jong , dasa jong, wastu aku teke lukat, 3, Ong idep aku Batara Guru anglukat salarane si anu ring bau, dasa mala, dwi mala, tri mala, catur mala, panca mala, sad mala, tujuh mala, dlapan mala, smilan mala, ike malaning hyang, pinakeng ngulun wastu aku mulih jati ening pada ening, lah poma, 3.


Artinya :
Untuk menghilangkan penyakit (penyaak) sarananya Widu bayu,
mantranya: Ong Durgha punah getih punah, banyeh teka saak, 3. obat segala penyakit yang mati.
Alat : air kelapa muda (klungah) diminumkan, mantra : Ong Sang Hyang Siwa Sabhrata, ana urip, pada urip kabeh, jumeneng ana sakti, 3.
Obat mala, alat : isi perahu, pinipis, air arak minumkan dan tutuhkan pada hidungnya,
mantra : Ong Sang Hyang Gni Anglayang aku amugpug, amunah, anggeseng tuju tluh tranjana, sakwehing tuju, satus dualapan, tri mala, panca mala,dasa malaning hyang, mala sudamala, aku Sanghyang Gni Anglayang, apan aku paranta anglukat tri mala, panca mala, dasamala ning hyang, mala sudamala, aku Sanghyang Gni Anglayang, amupug, amunah angeseng malane si anu, Ong aku paranta anglukatmalane sianu, mulih kang jati ening jati, lah poma, 3.
Alat : lurungan, dipakai sebagai minyak rambut, caru alit genep.
Sakit pada bahu, bila sakit pada bahu sebelah kanan dewa yang menyebabkan sakit tesebut, kalau sakit pada bahu sebelah kiri, pepasangan yang menyebabkan,
Alat : lenga tujuh potong,
Mantra :
Ong Bhatara Mala ngawe meru tumpang pitu, Batara Guru nyaluk penyak agung, tuju tiwang mapupul, tuju getih teke saak, 3,
Ong idep aku Batara Guru amugpug, amunah tuju, sakwehning tiwang, tuju ajung, duang jong, tri jong, catur jong, panca jong, sad jong, tuju jong, dlapan jong, smilan jong , dasa jong, wastu aku teke lukat, 3,
Ong idep aku Batara Guru anglukat salarane si anu ring bau, dasa mala, dwi mala, tri mala, catur mala, panca mala, sad mala, tujuh mala, dlapan mala, smilan mala, ike malaning hyang, pinakeng ngulun wastu aku mulih jati ening pada ening, lah poma, 3.
(Cakragni, lp:3a-4a).


Dewata Nawa Sanga yang bersemayam dalam tubuh serta dilengkapi dengan kekuatannya memberikan perlindungan disaat para penyembahnya mengalami gangguan. Dengan kata Tuhan bersemayam dalam badan, merupakan suatu dasar pertimbangan dari pola pikir bahwa dalam badan manusia dihuni oleh para dewa. Tetapi pemikiran demikian itu harus didasari dengan tingkat Wiweka agar dapat merealisasikan segala daya kekuatan dan tidak menjadi manusia kedewan-dewan akibat pemikiran yang terlalu pelik bahwa Tuhan berstana dalam badan manusia.

Sebagai seorang yang ahli dalam mengobati (balian), dalam memberikan pertolongan tidak cukup hanya dengan menggunakan sarana saja, namun tetap memerlukan bantuan kekuatan-kekuatan Tuhan agar tetap terlindungi.

Dengan mengucapkan kata Om (Ong), berarti seorang balian mengakui sebagai manusia tidak dapat berbuat sekehendak hati, oleh karena itu sangatlah perlu untuk memuja beliau karena dengan kekuatan-Nya pula balian mendapatkan suatu perlindungan, dan sadar bahwa setiap makhluk dalam dunia ini adalah bagian dari Tuhan (Ida Sanghyang Widhi) sebagai makhluk ciptaannya.

Ajaran etika dalam Lontar Cakragni merupakan ajaran yang mengandung aspek etika yang sangat mandasar seperti membuka, menutup, merubah huruf dan lain-lain. Inilah yang dikatakan sebagai dasar ajaran etika, artinya segala sesuatu yang para penyembahnya lakukan atau yang para penyembahnya kerjakan harus didahului dengan berdoa, karena dengan doa para penyembahnya akan mendapatkan pengampunan sekaligus perlindungan dari Ida Sanghyang Widhi Wasa.

Dalam Lontar Cakragni termuat ajaran seperti di bawah ini :

Pamuka, ma.,:
Ong Naga Raja, lukar ya nama swaha.
Iki panglukar tali.
Pamungkah lontar, ma.,:
Ong Awignam astu nama sidham.
Panugrahan amaca amusti, ma.,:
Ong pakulun sira paduka batara manira, dewa pada dewa, manusa minta mtukagunan kaprabon manawa salah surup sih, manusa pakulun.
Sasapan nalinin pustaka, ma.,:
Ong Naga Raja amilat ya namah swaha.
Piwenang nyurat, sa., toya ring sibuh, ma.,:
Ong sanghyang Siwa ring kundi manik, ati tetes sariraning wenang kabeh ilangankna kang ajuta, kerik kapurna jati, tka ening, ening, ening.


Terjemahan :

Pamuka, Mantra :
Ong Naga Raja, lukar ya nama swaha.
ini pembuka tali.
pembuka lontar, mantra :
Ong Awignam astu nama sidham.
Penganugrahan dalam membaca
Ong pakulun sira paduka batara manira, dewa pada dewa, manusa minta mtukagunan kaprabon manawa salah surup sih, manusa pakulun.
Sasapan mengikat pustaka Ong Naga Raja amilat ya namah swaha.
Piwenang menulis., alat : air pada sibuh, mantra, :
Ong sanghyang Siwa ring kundi manik, ati tetes sariraning wenang kabeh ilangankna kang ajuta, kerik kapurna jati, tka ening, ening, ening.
(Cakragni, lp:4b-5b)


Iti tuturing aji, yan sira durung wruh ring tutur iki aja sira manurat.
Artinya
Inilah hakikat tutur sastra, bila anda belum paham pada tutur ini, jangan anda menulis,
(Cakragni, lp, 5b).


Ritual dalam Lontar Cakragni

Aku sanghyang gni anglayang, apan aku paranta anglukat, tri mala, panca mala, dasa malaning hyang, mala sudamala, aku sanghyang Gni Anglayang, amugpug, amunah, angeseng, malane si anu, Ong aku parante anglukat malane si anu, mulih kang jati ening jati, lah poma, 3.
Sa. Lenge lurungan, apunakna, caru alit sagnepa
(Cakragni, lp:3b)

Seorang balian dalam melakukan pengobatan tidak cukup mempergunakan sarana berupa obat-obatan saja, tetapi perlu juga melakukan pembersihan melalui penglukatan yang disertai dengan bebanten (upakara) yang berbentuk pecaruan kecil dimana dilengkapi dengan eteh-eteh pesegehan selengkapnya.

Jika dilihat dari segi etika, tattwa, ajaran cakragni memberi pelajaran bagaimana menstanakan Tuhan dalam badan sesuai dengan ajaran yang terkandung dalam agama Hindu yaitu Tuhan memiliki sifat imanent.